Dijelaskan pula bahwa kafein memiliki kemampuan merangsang
saraf pusat. Efek positif dari kafein yang sudah sangat terkenal ialah
meminimalisir tingkat kelelahan, tak heran jika bercangkir-cangkir kopi sering
dijadikan teman untuk begadang atau kerja lembur. Efek negatif kafein searing dirasakan
ketika seorang penikmat kopi mencoba
berhenti untuk minum kopi.
Pengaruh kafein bervariasi terhadap setiap orang, ada yang
sangat sensitif, cukup sensitif ada juga yang tidak sensitif. Orang yang sangat
sensitif terhadap kafein akan mengalami efek negatif meskipun hanya meminum
seteguk kopi. Efek negatif tersebut bisa berupa cemas, gelisah, mudah marah dan
sulit tidur. Orang yang tidak terbiasa minum kopi akan cepat mersakan efek negatif
kafein jika sewaktu-waktu meminum kopi.
Hasil penelitian dilakukan oleh Johns Hopkins Medicine tahun
2004 menunjukkan, bahwa semakin tinggi
asupan kafein, semakin besar kemungkinan menderita efek samping negatif yang
terkait dengan gejala penarikan setelah menghentikan penggunaan kafein. Dijelaskan
bahwa efek samping negatif dari kafein
sering bisa dilihat dalam lima kelompok gejala penarikan umum, yaitu sakit kepala; mengantuk atau kelelahan; depresi
dan mudah tersinggung; kesulitan berkonsentrasi; serta gejala mirip flu seperti
muntah, mual dan nyeri otot atau kekakuan .
Sakit kepala mungkin adalah gejala yang paling terkenal dari
kafein. Berdasarkan catatan Mayo Clinic,
blok reseptor kafein dalam otak memiliki kemampuan melebarkan pembuluh darah.
Untuk sebagian orang hal itu menyebabkan sakit kepala. Gejala sakit kepala
dapat berlangsung selama seminggu.
Menurut Michael Kuhar, kepala divisi ilmu saraf di Yerkes
National Primate Research Center di Emory University di Atlanta, Georgia (dalam
sebuah artikel yang diterbitkan CNN. April 2009), bahwa efek negative kafein melalui gejala penarikan
dapat berlangsung dalam kurun 12 sampai 20 jam setelah secangkir kopi terakhir
diminum, puncaknya sekitar dua hari kemudian, dan mereda dalam seminggu.
Sederhananya, upaya
penghentian kebiasaan minum kopi akan menimbulkan gejala penarikan kafein dari metabolism
tubuh. Secara bertahap kadar kafein dalam tubuh akan semakin berkurang untuk
selanjutnya menuju titik nol. Namun gejala penarikan ini cenderung menimbulkan
efek samping berupa ketidak-stabilan dan ketidak-nyamanan kondisi tubuh.
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research,
bahwa gejala penarikan kafein biasanya
hilang setelah beberapa hari. Secara
bertahap menurunkan kadar kafein dalam tubuh dapat membantu untuk mengurangi
gejala penarikan. Gejala penarikan
sangat terasa jika penurunan konsumsi kafein dilakukan secara mendadak.
Dalam hal ini Roland Griffiths, Ph.D., seorang profesor psikiatri dan ilmu saraf di
Johns Hopkins, menyatakan bahwa dirinya
telah mengajarkan metode sistematis bertahap mengurangi konsumsi kafein dari
waktu ke waktu dengan menggantikan produk tanpa kafein atau non-kafein.
Bisa juga dengan mengurangi takaran kopi dalam satu cangkir
secara bertahap, mulai dari dua sendok, satu sendok, setengah sendok, dan
sebagainya. Dengan kata lain, upaya penghentian kebiasaan minum kopi disarankan
tidak dilakukan secara mendadak, supaya efek samping dari gejala penarikan
kafein dari dalam tubuh tidak terlampau buruk. Bisa juga dengan perlahan-lahan
mulai mengkonsumsi kopi bebas kafein.
Sumber Gambar:
http://drozgarciniacambogiaextract.com/does-garcinia-cambogia-contain-caffeine-important-facts-revealed

Tidak ada komentar:
Posting Komentar