MakanGizi.com - Gejala obesitas tampaknya saat ini
makin meluas, tidak hanya di kota besar, tetapi sudah masuk ke desa-desa
terpencil. Tidak hanya orang dewasa, bahkan juga anak-anak dan Balita. Ya
obesitas makin meluas.
Populasi orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas memang terus cenderung meningkat, hal itu terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup, aktivitas fisik yang cenderung ringan atau kurang bergerak (sedentary), dan perubahan pola dan menu makan – jika semula banyak menyantap sajian tradional yang bergizi seimbang, kini bergeser ke menu cepat saji dan junk food.
Populasi orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas memang terus cenderung meningkat, hal itu terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup, aktivitas fisik yang cenderung ringan atau kurang bergerak (sedentary), dan perubahan pola dan menu makan – jika semula banyak menyantap sajian tradional yang bergizi seimbang, kini bergeser ke menu cepat saji dan junk food.
Disebut mengalami
obesitas jika perhitungan Indeks Massa Tubuh (IBM )
mencapai 30 kg/m2 atau lebih. BMI
adalah suatu rumus kesehatan, di mana berat badan (BB) seseorang (kg) dibagi
dengan tinggi badan (TB) pangkat dua (m2). Sebagai gambaran, jika berat
badan Anda 60 kg
dengan tinggi badan 160 cm ,
maka IBM Anda dapat dihitung
sebagai berikut 60 kg/(1,6 m )2 sama
dengan 18,75, berarti masih dalam batas normal (IBM
18,5 – 25 kg/m2). Sedangkan IBM
25 – 30 termasuk preobesitas; IBM
30 – 35 obesitas I; dan IBM 35 –
40 obesitas II.
Menurut laporan BBC,
bahwa sekitar 22 persen pria dan 24 persen wanita di Inggris memiliki IBM
30 kg/m2 atau lebih (obesitas). Secara keseluruhan sekitar 60,8
persen orang dewasa dan 31,1 persen anak-anak mengalami kelebihan berat badan
(IBM 25 kg/m2 atau lebih). Sedangkan kondisi di Jakarta, menurut
hasil penelitian tahun 2006, menunjukkan 67 persen warganya memiliki berat badan yang
berisiko (overweight dan obesitas). Menurut laporan Kompas.com,
ternyata tingkat obesitas di Amerika Serikat dan Indonenesia tidak jauh berbeda.
Bahkan jika dibandingkan dengen kondisi di Spanyol, Portugal dan Jerman tingkat
obesitas penduduk Indonesia malah lebih tinggi.
Menurut hasil
Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2010, menunjukkan bahwa angka
kelebihan berat badan dan obesitas pada penduduk dewasa (di atas usia 18 tahun)
mencapai 21,7 persen, sekitar 11,7 persen (27,7 juta jiwa) adalah obesitas.
Kalau memperhatikan data tersebut, maka ada 11,7 persen orang Indonesia yang
mengalami obesitas (IBM 30 – 40), dan “hanya” 10,0 persen orang Indonesia yang
kelebihan berat badan atau preobesitas (IBM 25 – 30). Sementara para dokter di
Inggris telah sepakat dengan katagori, bahwa IBM 40 sudah dapat dikatagorikan “tidak
sehat”.
Ciri kegemukan
atau kelebihan berat badan bisa ditandai dari ukuran lingkar perut atau lingkar
pinggang. Dalam hal ini untuk laki-laki, lingkar pinggang normal tidak boleh
lebih dari 90 cm, dan pada wanita tidak
boleh lebih dari 80 cm. Sebagai gambaran, kondisi di Inggris pada tahun 1993,
orang dewasa dengan kelebihan lingkar pinggang mencapai 23 persen, dan tahun
2009 melonjak jadi 38 persen. Sementara hasil studi di Jakarta mengungkapkan,
bahwa 95 persen wanita memiliki lingkar
perut diatas normal, sedangkan yang normal hanya 5 persen.
Obesitas
menimbulkan beragam risiko dalam kehidupan, bahkan menurut BBC, sekitar 30 ribu
orang Di Inggris meninggal akibat beragam penyakit yang berkaitan dengan
onesitas. Banyak pakar bidang kesehatan yang memiliki keyakinan, bahwa dampak
kesehatan obesitas lebih buruk daripada
merokok. Kelebihan berat badan dan obesitas terkait erat dengan beragam penyakit,
seperti diabetes; penyakit jantung; tekanan darah tinggi; radang sendi; gangguan
pencernaan; batu empedu; kanker (terutama kanker payudara dan kanker prostat);
kebiasaan mendengkut dan apnea (mendadak berhenti nafas saat tidur); stres,
kecemasan, dan depresi; dan infertilitas (mandul).
Secara ekonomi
obesitas juga menyebabkan biaya kesehatan yang tinggi dan tingkat produktivitas
yang menurun. Jika semakin meluas tentu saja akan berpengaruh kurang baik
terhadap kondisi sumberdaya manusia secara nasional.
Ternyata kualitas
dan kuanitas aktifitas fisik sangat berkaitan dengan obesitas. Hasil riset di
Inggris menunjukkan, bahwa tahun 1950-an
ibu rumah tangga yang mengkonsumsi kalori lebih banyak dibanding wanita karir,
ternyata berpenampilan lebih ramping. Hal itu berkaitan dengan aktifitas fisik
yang jauh lebih banyak. Tak dapat dipungkiti kemajuan teknologi di berbagai
bidang menyebabkan segalanya menjadi dipermudah, mulai dari mencuci pakaian,
menempuh perjalanan, dan sebagainya. Apalagi dengan berkembangnya teknologi televisi
dan internet, makin memanjakan setiap orang untuk duduk atau berbaring manis
selama berjam-jam di satu tempat.
BBC juga
mengungkapkan bahwa orang dengan IBM berkisar antara 19 – 20 memiliki peluang
hidup lebih panjang, sedangkan tingkat kematian lebih tinggi pada kelompok
orang dengan IBM 25 atau lebih. Konsep IBM sebenarnya tidak terlalu sempurna,
sebagai gambaran seorang atlet angkat berat, tentu saja memiliki IBM yang
tinggi, padahal tidak kelebihan berat badan dan memiliki lingkar perut dan
pinggang yang ideal.
Lantas bagaimana
cara mengendalikan berat badan dan menghindari obesitas ? Cara terbaik adalah
jangan bersikap statis atau terpaku di suatu titik atau tempat, tetapi badan
terus dibawa bergerak aktif. Di sisi lainnya kombinasi diet yang sehat dan seimbang dengan olahraga
teratur, sangat memadai untuk menghalau obesitas. Untuk pilihan jenis olah
raga, jalan cepat, berenang atau
bersepeda lima kali seminggu selama 20-30 menit, merupakan langkah yang ideal
untuk dilaksanakan.
Sedangkan bagi
yang merasa sudah mengalami kegemukan, segera berkonsultasi dengan para ahli
atau dokter spesialis untuk menentukan tindakan lebih lanjut. Untuk kasus obesitas
yang parah, dokter bisa saja memberikan resep obat untuk terapi, misalnya
dengan obat khusus yang bekerja dengan cara menghalangi pencernaan lemak. Untuk
kasus yang tergolong ekstrin bisa saja dilakukan pembedahan, hal itu untuk
menghindari potensi komplikasi yang akan terjadi. Sebagian besar pembedahan
ialah untuk mengurangi ukuran perut.
Ya, sebenarnya lebih mudah mencegah terjadinya
kelebihan berat badan dan obesitas daripada “mengobati” beragam dampaknya.
Tidak ada pilihan lain, ubah gaya hidup, lebih banyak bergerak, berolahraga,
perhatiak pola dan menu makan, utamakan gizi yang seimbang. (Atep Afia – MG 0113
– 019/ Sumber: BBC.co.uk dan berbagai sumber lainnya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar