Selasa, 22 Januari 2013

Menangani Anak Gizi Buruk

Judul : Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk
Jenis Publikasi :  e-Book
Penerbit : Kementerian Kesehatan RI
Hyperlink : Buku Pedoman

MakanGizi.com - Stasiun televisi nasional pernah menayangkan sosok anak atau Balita dengan status gizi buruk dari beberapa pelosok daerah di Indonesia.


Kalau kita menyaksikan tayangan  yang sangat mengenaskan, tentu saja akan jatuh iba. Ya, kemiskinan orang tuanya menyebabkan anaknya mengalami kekurangan gizi atau berstatus gizi buruk.
Tentu saja untuk memenuhi kecukupan gizi, sehingga berstatus gizi seimbang dan tidak berlebih sangat membutuhkan asupan gizi, untuk itu diperlukan anggaran yang memadai untuk penyediaannya. Bagaimanapun harga susu, ikan, telor, daging, sayuran, kacang-kacangan dan  buah-buahan semakin mahal saja, membuat kelompok masyarakat berpenghasilan rendah makin sulit menjangkaunya. Sebagai dampaknya, ya anak-anaknya tidak memperoleh asupan gizi yang mencukupi.

Lantas, bagaimana cara menangani anak-anak berstatus gizi buruk dan gizi kurang tersebut ? Kementerian Kesehatan RI menerbitkan “Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk”, antara lain dalam bentuk e-book yang dapat didownload siapapun (Klik Di Sini ). Buku yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Febrauri 2011 tersebut, lebih ditujukan bagi bagi tenaga kesehatan dan tenaga pengelola gizi khususnya yang bekerja di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.

Dalam Pengantarnya antara lain dijelaskan bahwa untuk  mengatasi masalah gizi buruk dan gizi kurang pada balita, Kementerian kesehatan telah menetapkan kebijakan yang komprehensif, meliputi pencegahan, promosi/edukasi dan penanggulangan balita gizi buruk. Dalam hal ini upaya pencegahan dilaksanakan melalui pemantauan pertumbuhan di posyandu. Sedangkan penanggulangan balita gizi kurang dilakukan dengan pemberian makanan tambahan (PMT) sedangkan balita gizi buruk harus mendapatkan perawatan susuai Tatalaksana Balita Gizi Buruk yang ada.

Di sisi lainnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan gizi dalam penanganan anak gizi buruk dilakukan melalui pelatihan Tatalaksana Gizi Buruk bagi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Ditegaskan bahwa Untuk menekan kematian bayi atau balita, dan menurunkan prevalensi gizi kurang dan buruk pemerintah menetapkan target bahwa semua balita gizi buruk dirawat. Ya, penderita gizi buruk harus menjalani rawat inap dan rawat jalan.

Buku Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk meliputi enam bab (Pendahuluan; Kriteria Anak Gizi Buruk dan Alur Pemeriksaan; Penanganan Anak Gizi Buruk Rawat Jalan; Penanganan Anak Gizi Buruk Rawat Inap; Pemantauan dan Evaluasi; dan Penutup).  Selain itu dikelngkapi beberapa lampiran seperti: Kebutuhan Energi dan Protein Sehari Anak Umur 1 – 12 Tahun; Formulir Skrining Gizi Buruk Anak Usia 6 – 59 Bulan; Formulir Pencatatan Kartu Status; dan sebagainya.

Di bagian awal dilengkapi dengan Daftar Istilah, seperti BGM (Bawah Garis Merah. BGM adalah berat badan balita hasil penimbangan yang dititikkan dalam KMS dan berada di bawah garis merah); F 100 (Formula makanan cair yang terbuat dari
susu, gula, minyak dan mineral mix, yang mengandung energi 100 kkal setiap 100 mililiternya. Formula ini dapat diberikan kepada anak balita yang sangat kurus dan diberikan secara bertahap.); dan sebagainya.

Lantas, apa yang menjadi kriteria gizi buruk ? Dijelaskan bahwa terdapat kasus gizi buruk tanpa komplikasi dengan kriteria : BB/TB: < -3 SD dan atau;  Terlihat sangat kurus dan atau;  Adanya Edema dan atau;  LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan. Dalam hal ini Edema ialah penimbunan cairan tubuh di bawah kulit yang disebabkan oleh kekurangan asupan protein. Penimbunan cairan dapat terjadi pada kedua punggung kaki (edema minimal) atau di seluruh tubuh (edema +++). Sedangkan LILA ialah Lingkar Lengan Atas. LiLA adalah salah satu indikator yang digunakan untuk melihat status gizi dengan cara mengukur lingkar lengan atas.

Ada juga  gizi buruk dengan komplikasi, selain dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah
satu atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut: anoreksia; pneumonia berat; anemia berat; dehidrasi berat; demam sangat tinggi; dan penurunan kesadaran.

Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (dalam Tempo, 18 Januari 2012),  jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia tahun 2012 sekitar 900 ribu jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5 persen dari jumlah balita Indonesia, yakni 23 juta jiwa. Daerah yang kekurangan gizi tersebar di seluruh Indonesia, tidak hanya daerah bagian timur Indonesia. Hal itu menempatkan Indonesia pada peringkat kelima  di dunia sebagai negara dengan kekurangan gizi. (Atep Afia – MG 0113 – 010).

1 komentar:

  1. membaca artikel ini tentang gizi buruk, saya teringat tayangan di perusahaan saya yang selalu diputar setiap jam makan siang. disitu terpampang nyata slide demi slide foto yang menunjukkan banyak anak dengan hanya berbalut kulit dan tulang hingga tidak dapat berjalan. yang lebih mengenaskan adalah mereka harus minum dari maaf sebelumnya air kencing hewan karna mungkin saking miskinnya atau sulitnya mendapatkan air bersih. saya jadi iba dan sedih mengapa tingkat kemiskinan di negara ini begitu menyedihkan untuk dilihat. dan saya sangat bersyukur karena masih bisa mendapatkan asupan gizi lengkap dan memberikan makanan bergizi juga kepada keluarga demi kesehatan. dan saya sangat bersyukur masih bisa membaca artikel ini dan melihat tayangan di Tv perusahaan agar dapat selalu bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan hingga saat ini.terima kasih

    BalasHapus